‘Perang’ antar pelatih pecah jelang leg pertama semifinal Liga Champions antara Real Madrid vs Barcelona di Santiago Bernabeu, Kamis (27/4/11) dinihari WIB. Bila psy-war jelang laga besar bukanlah hal luar biasa, namun yang terakhir ini boleh dianggap luar biasa. Tak tahan dengan sindiran Jose Mourinho, Josep Guardiola ‘meledak’. Kalimat panjang dan keras pun tak tertahankan.

Yang menarik adalah apakah respon dari Guardiola dalam ‘teritori’ yang bukan keahliannya menunjukkan kalau Mourinho sudah memenangkan perang mental.

Tak ada lagi respek dan hormat secara sunyi dengan saling salam dan mengangguk. Kata-kata pedas tak lagi tertahan.

Jauh sebelum ini Mourinho diketahui pernah menyindir Guardiola. Tampak kalau hal ini tak begitu saja dilupakan Guardiola, terlebih setelah komentar terakhir Mourinho setelah kemenangan Madrid di final Copa del Rey.

Kini, Guardiola pun menjawab panjang lebar.

“Dia panggil saya Pep, maka saya jawab. Biasanya dia bicara secara umum mengenai tim, atau manajer, tapi saat ini dia menyebut nama (merendahkan) saya. Bila dia katakan: ‘Pep,’ Saya akan katakan: ‘Hi Jose.’

“Besok jam 8.45 kami akan main di atas lapangan,” jelas Guardiola.

“Di luar lapangan, dia sudah menang sepanjang tahun, seluruh musim dan bahkan di musim depan juga akan sama. Dia bisa meraih gelar personal Liga Champions di luar lapangan. Biar dia nikmati itu. Tapi ini adalah pertandingan. Dalam pertandingan kadang kita menang, kadang kita kalah. Kami bahagia dengan kemenangan kecil, berusaha membuat seluruh dunia mengagumi kami dan kami bangga akan ini.

“Saya bisa memberikan daftar (daftar keluhan): 300.000 hal. Kami bisa ingat Stamford Bridge dan ribuan hal lainnya, tapi saya tak memiliki begitu banyak orang bekerja untuk saya. Besok kami akan tampil bermain bola dan kami akan tampil sebaik mungkin.

“Di sini (ruang pers Real Madrid), dia adalah rajanya, figur utama (the fu***ng man). Di sini dia adalah figur utama (the fu***ng man) dan saya tak bisa menandingi dia. Bila Barcelona ingin ada seseorang menandingi dia, mereka (Barca) harus cari manajer lain. Tapi kami, sebagai individual dan institusi tak seperti itu. Saya bisa bicara mengenai Bequerenca (wasit semifinal pertama antara Barcelona vs Inter Milan musim lalu), mengenai gol offside Diego Milito atau penalti Alves, tapi saya tidak melakukannya. Tidak sampa malam ini!

“Bila menurut Anda setelah tiga tahun, saya selalu mengeluh, selalu membuat alasan, maka tak ada yang saya bisa lakukan mengenai itu.”

Sekitar sepekan lalu, Barca sebenarnya bisa saja memenangkan final Copa del Rey bila saja gol dari Pedro Rodriguez tak dianulir wasit karena offside (sangat ketat). Mengenai keputusan offside tersebut, Guardila berkomentar kalau hakim garis memiliki mata yang bagus.

Komentar Guardila jadi bahan sindiran Mourinho sehari lalu.

“Era baru telah dimulai,” jelas Mourinho.

“Sampai saat ini, ada dua grup pelatih. Satu, grup kecil pelatih yang tak suka bicara mengenai wasit dan satu grup besar yang dimana saya termasuk, yang suka mengkritik wasit saat mereka melakukan kesalahan — orang seperti saya yang tak menahan frustrasinya, tetapi juga senang saat wasit membuat keputusan benar.

“Sekarang ada grup ketiga, yaitu (Guardiola) yang hanya mengkritik wasit saat mereka membuat keputusan yang benar. Ini jadi makna baru. Di musim pertamanya dia melewati skandal di Stamford Bridge (semifinal), musim lalu ia melawan sepuluh pemain Inter. Sekarang ia tak suka saat wasit membuat keputusan benar. Saya tak meminta wasit untuk membantu tim saya. Bila wasit bagus maka semua akan senang — terkecuali Guardiola. Dia mau wasit salah (buat keputusan).”

Jauh sebelum ini, Guardiola dan Mourinho bukanlah sosok asing. Keduanya pernah bekerjasama selama empat tahun di Barcelona.

“Kami pernah bekerja sama selama empat tahun. Dia tahu saya, dan saya tahu dia, itu saja. Bila dia lebih memilih untuk menggunakan hal-hal yang tertulis setelah Copa del Rey oleh pers atau Florentina Perez dengan segala dongengnya, baiklah. Bila hal-hal tersebut lebih berharga dari persahabatan kami, itu terserah dia. Saya tidak akan membenarkan kata-kata saya sendiri,” kesal Guardiola.

“Hal seperti ini selalu meninggalkan kesan buruk saat seseorang yang berhububungan dengan ada melakukan ini. Saya selalu mengira kalau orang tak mengerti saya itu karena saya menjelaskan diri secara buruk, tetapi sekarang tidak.

“Saya katakan kalau wasit (di final Copa) sangat cerdas dan sangat detil. Saya katakan kalau itu (keputusan) benar. Itu saja, bukanlah komplain.

“Setelah kemenangan (Madrid), saya menyelamati Real Madrid dan itu yang dilakukan Barcelona. Kami selamati Madrid untuk piala yang mereka menangi di atas lapangan atas tim yang saya wakili dengan bangga.”